Minggu, 22 Agustus 2010

ACEH DARI MASA KE MASA
Aceh sebuah Entitas politik dari masa awal terbentuk sebuah kerajaan Aceh dan peradaban Umat manusia di mulai di negara serambi mekkah ini. Dimana pengaruh Islam bisa masuk dan mengislamkan semua masyarakat Aceh yang awalnya menganut keyakinan Animisme. pergulatan demi pergulatan sosial,politik dan Ekonomi telah membuat negeri ini berada dalam bingkai pergolakan baik dengan pusat dan sesama bangsa Aceh sendiri.
Penguasaan Ideologi oleh satu generasi maupun tokoh telah membuat cara hidup dan pola pikir masyarakat Aceh.

1. MASA HAMZAH FANSURY
Hamzah fansury adalah salah satu tokoh Aceh yang sangat berjasa dalam mempopularkan Aceh dengan ilmunya. Hamzah al-Fansuri atau dikenal juga sebagai Hamzah Fansuri adalah seorang ulama sufi dan sastrawan yang hidup di abad ke-16. Meskipun nama 'al-Fansuri' sendiri berarti 'berasal dari Barus' (sekarang berada di provinsi Sumatra Utara) sebagian ahli berpendapat ia lahir di Ayuthaya, ibukota lama kerajaan Siam.
Hamzah al-Fansuri lama berdiam di Aceh. Ia terkenal sebagai penganut aliran wahdatul wujud. Dalam sastra Melayu ia dikenal sebagai pencipta genre syair.
aya akan berpijak pada literatur yang saya ketahui. Mengenai riwayat hidup Hamzah Fansuri tidak satu pun catatan, baik tahun kelahirannya maupun tahun meninggalnya—sehingga sampai saat ini banyak para peneliti berselisih faham. Salah satu faktor yang menyebabkan kekaburan ini karena Beliau tidak mencantumkan tahun dalam karya-karyanya—walaupun Hamzah merupakan pengarang Melayu pertama yang mengarang karya-karya bersifat ilmiah dengan mencantumkan nama dalam karyanya—hal ini kemudian menjadi ikutan dan kebiasaan oleh pengarang-pengarang Melayu berikutnya. Catatan mengenai Beliau hanya dapat kita rujuk pada karya-karya pengikutnya antara lain Hasan Fansuri, ‘Abdul-Jamal, dan Syamsuddin Pasai. Sedangkan tulisan Nuruddin ar-Raniri hanya menyebut nama Hamzah Fansuri dalam kitabnya Tibyan—dalam kitab ini Nuruddin menyerang serta menuduh Hamzah dan Syamsuddin berfaham sesat, dengan menamakannya Wujudiyah dhalala. Selanjutnya dalam kitab Nuruddin yang lain berjudul Bustan al-Salatin terutama bab II pasal 13 tentang sejarah Kerajaan Aceh juga tidak menyebutkan nama Hamzah Fansuri padahal isi kitab ini membicarakan tentang kegiatan-kegiatan para ulama; kapan mereka sampai di Aceh serta ilmu-ilmu apa saja yang mereka ajarkan hingga tahun mereka meninggal di Aceh. Memang ini agak lucu karena ajaran dan karya-karya Hamzah telah berkembang subur di Kerajaan Aceh. Yang dikemudian hari diteruskan oleh murid-muridnya terutama oleh Syamsuddin Pasai yang menjadi ulama istana pada jaman Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil (1588-1604). Dalam ajaran martabat tujuh—menjadi sendi utama ajaran Syamsuddin terangkum dalam kitab Tuhfah banyak mengutip dan mengulas karya-karya Hamzah yang merupakan seorang tokoh yang dikaguminya. Bahkan menurut sejarah kedudukan Syamsuddin lebih kuat lagi pada zaman kerajaan Sultan Iskandar Muda. Raja ini bukan saja merupakan muridnya, tetapi juga pengikutnya dalam ajaran wahdatul-wujud. Lalu siapakah sebenarnya Hamzah Fansuri? Mengutip pendapat Francois Valentijn (dalam T.Iskandar, 1996) dengan bukunya Oud en Niew Oost-Indien (1726) menyebutkan Hamzah Pantsoeri sebagai seorang penyair termashyur yang dilahirkan di Pantsoer (Barus) sehingga daerah ini pun ikut menjadi terkenal. Dalam konteks kekinian Barus merupakan salah satu daerah di Kabupaten Tapanuli Tengah, secara geografis terletak di pesisir barat pulau Sumetera, dan secara dialektologi penduduknya mayoritas menggunakan bahasa Mandailing. Pada jaman Hamzah daerah ini merupakan pusat perdagangan dengan penduduk yang ramai. Menurut Van der Tuuk dan Doorenbos nama Fansur adalah ucapan Arab untuk Pancur yang oleh orang Batak disebut Pansur. Sebelumnya Barus disebut Pangsur. Dengan demikian dapat diberi kesimpulan bahwa nama Hamzah Fansuri berarti Hamzah berasal dari Barus. Namun Syed Muhammad Naguib Al-Attas berpendapat lain, dalam bukunya The Mysticism of Hamzah Fansuri mengemukakan bahwa Hamzah berasal dan lahir di Syarnawi, Ayuthia (ibu kota Siam pada jaman dahulu). Ia berpedoman pada rangkap syair Hamzah nin asalnya Fansuri/mendapat wujud di tanah Syarnawi. Rupanya larik mendapat wujud di tanah Syarnawi diartikannya Hamzah lahir di sana. Kalau kita lihat konteks ini merupakan suatu kekeliruan karena kata wujud dalam rangkap syair tersebut tidak dapat dimaknai dan diartikan demikian, karena pada karya Hamzah yang lain menggunakan kata wujud dalam arti yang lain pula; rahman itulah yang bernama wujud, atau dalam karya Hamzah yang berjudul Asrar al-‘Arifin dikatakan jikalau sini kamu tahu akan wujud/itulah tempat kamu syahud. Dengan demikian, rangkap syair di atas tadi mengindikasikan Hamzah belajar ilmu agama atau “bertemu” dengan Tuhan di Syarnawi. Kalau mengutip pendapat Syed Muhammad yang menganggap kegiatan Hamzah Fansuri telah dimulai sebelum dan selama pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayat Syah Sayidil Mukamil yang memerintah kerajaan Aceh Darussalam (1589-1604 M), atau kesimpulan Drewes yang menyatakan Hamzah Fansuri telah aktif pada jaman Sultan Alauddin, putera Sultan Ahmad Perak dan Sulthan Alaiddin Riayat Syah Sayidil Mukamil, sehingga beliau lebih terkenal di kerajaan Aceh daripada tempat asalnya Barus—sebagian sejarah mengatakan Hamzah Fansuri berasal dari Aceh. Hal ini dapat dimaklumi karena setelah jatuhnya Melaka ke tangan orang Portugis (1511) dan Kerajaan Pasai dikalahkan oleh Kerajaan Aceh (1524) maka secara otomatis pusat kebudayaan Melayu berpindah ke Bandar Aceh Darussalam. Kegiatan-kegiatan kesusasteraan, agama dan penulisan sejarah yang telah mulai di Pasai terus dilanjutkan di kerajaan ini. Begitu juga halnya dengan pembukaan undang-undang yang telah dimulai di kerajaan Melaka. Sebagai seorang ulama dan cendikiawan Melayu, dengan mobilitas yang tinggi sering berpindah tempat (salah satu ciri khas penyair Melayu klasik suka berpetualang) sehingga kemungkinan besar Hamzah Fansuri pun ikut pindah ke Bandar Aceh Darussalam dengan tujuan untuk lebih mudah mengembangkan karya maupun ajarannya. Hal ini dibuktikan dengan hijrahnya para ulama dan pujangga ke kerajaan baru ini. Salah seorang yang hijrah dari Pasai adalah murid Hamzah sendiri yaitu Syamsuddin Pasai, setelah menamatkan pelajaran di luar negeri, tidak kembali ke tanah kelahirannya tetapi menetap di Kerajaan Bandar Aceh Darussalam. Dengan demikian bisa saja muncul hipotesa bahwa Hamzah Fansuri merupakan penyair dari Mandailing karena lahir Barus. Ataupun beliau penyair dari Aceh karena kemungkinan besar Barus dulunya berada dibawah kekuasaan Kerajaan Pasai dan Kerajaan Bandar Aceh Darussalam. Dalam konteks kekinian, Riau yang baru saja menyelesai hajatan besar yaitu konfrensi Melayu dunia (4-6 Desember 2007) telah mencanangkan budaya dan bahasa Melayu dijadikan bahasa dan budaya Internasional (PBB) suatu hal yang patut kita dukung. Kalau kita telusuri karya yang ada di Riau terutama karya Raja Ali Haji sebut saja; Bustan al-Katibin (1850), Gurindam Dua Belas (1847), Kitab Pengetahuan Bahasa (1858), dan lain-lain semua merujuk pada karya yang pernah ada di Aceh, terutama Hamzah Fansuri dan ikutannya. Lalu apakah hubungannya dua rantau Melayu ini? Hal ini perlu diteliti lebih dalam. Namun yang jelas Hamzah Fansuri adalah seorang penyair Melayu yang agung.


Sabtu, 21 Agustus 2010

SUKEE ACEH

ASPEK SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ACEH

Aceh sebagai sebuah entitas etnis dan wilayah tertentu sangat berbeda dengan etnis atau wilayah lainnya di Indonesia. Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang pluralistis dan “terbuka”. Di daerah Nanggroe Darussalam ini terdapat 8 sub etnis, yaitu Aceh, Alas, Aneuk Jamee, Gayo, Kluet, Simeulu, Singkil, dan Tamiang. Kedelapan subetnis tersebut mempunyai sejarah asal-usul dan budaya yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Misalnya, menurut sejarahnya, sub etnis Aneuk Jamee merupakan pendatang yang berasal dari Sumatera Barat (etnis Minangkabau) sehingga budaya subetnis Aneuk Jamee mempunyai kemiripan dengan budaya etnis Minangkabau.
A. MITOS/SEJARAH KEBERADAAN MASYARAKAT ACEH

Pada waktu masih sebagai sebuah kerajaan, yang dimaksud dengan Aceh adalah wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Aceh Besat, yang di dalam istilah Aceh disebut Aceh Rayeuk, yaitu salah satu kabupaten atau daerah tingkat II di Nanggroe Aceh Darussalam. Semasa masih sebagai kerajaan, Aceh Rayeuk (Aceh Besar) merupakan inti Kerajaan Aceh (Aceh proper) dan telah menyebarkan sebagian penduduknya ke darah-daerah lain di sekitarnya (daerah takluk) yang oleh Belanda dinamakan Onderhorigheden. Sebutan Aceh juga digunakan oleh orang-orang di daerah takluk di luar Aceh Rayeuk (Aceh Besar) dalam wilayah Kerajaan Aceh untuk menyebut nama ibukota kerajaan yang sekarang bernama Banda Aceh. Mereka yang mendiami pesisir Timur seperti Pidie, Aceh Utara hingga Aceh Timur, dan Pesisir Barat dan Selatan, jika mau ke ibukota kerajaan (Banda Aceh) mengatakan mau pergi ke Aceh. Sebutan ini masih ada yang menggunakannya sampai sekarang.
SElain sebagai nama daerah, Aceh juga merupakan nama salah satu suku bangsa atau etnis sebagai penduduk asli yang mendiami Provinsi Nanggroe Aceh Darusssalam. Di Provinsi Naggroe Aceh Drussalam sekarang terdapat 20 daerah tingkat II yang didiami oleh delapan kelompok etnis, yaitu etnis Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Kluet, Simeulue, dan Singkil. Semua etnis in adalah penduduk asli yang dalam istilah Belanda disebut inlander (penduduk pribumi).

Hingga saat ini belum ada satu kepastian konkret mengenai asal muasal dan kapan istilah Aceh mulai digunakan karena data yang dapat memberi kesimpulan tentang asal muasal etnis Aceh tersebut tidak ditemukan. Infromasi atau sumber yang berasal dari orang Aceh sendiri tentang hal ini masih berupa kisah-kisah popular yang disampaikan secara turun-temurun (berupa tradisi lisan) yang sulit untuk dipertanggungjawabkan kebenarannya. Para pendatang luar (orang-orang asing) yang pernah mengunjungi Aceh sewaktu masih sebahai sebuah kerajaan menuyebutkan dengan nama beragam. Orang Portugis misalnya menyebut dengan nama Achen dan Achem, orang Inggris menyebut Achin, orang Perancis menamakan Achen dan Acheh, orang Arab menyebut Asyi, sementara orang Belanda menamakan Atchin dan Acheh. Orang Aceh sendiri menyebut dirinya dengan nama Ureung Aceh (orang Aceh). Memang terdapat beberapa sumber yang menginformasikan tentang asal muasal nama Aceh dan etnis Aceh, namun sember-sumber tersebut bersifat mistis atau dongeng, meskipun ada juga yang dikutip oleh para penulis asing seperti penulis-penulis Belanda.

K.F.H Van Langen dalam salah satu karyanya tentang Aceh berjudul “De Inrichting Van het Atjehsche Staatbestuur Onder het Sultanaat” (Susunan Pemerintah Aceh Semasa Kesultanan) yang dimuat dalam BKI 37 (1888) serta juga yang dikutip dari Laporan Gubernur Aceh dan Daerah Takluknya yang diterima sebagai Lampiran Surat Sekretaris Pemerintahan Umum tertanggal 30 Juni 1887 No. 956 dimuat dalam majalah TBG (1889) dengan judul “Lets Omtrent de Oosprong Van Het Atjesche Volk en den Toestand Onder het Voormalig Sultanaat in Atjeh” (Serba-serbi Tentang Asal-Usul Bangsa Aceh dan Keadaan Pada Masa Pemerintahan Kesultanaan di Aceh). Disebutkan bahwa menurut cerita-cerita rakyat, penduduk asli Aceh disebut ureueng manteue yang didominasi oleh orang-orang Batak dan juga etnis Gayo. Mereka termasuk dalam keluarga besar Melayu yang asal-usulnya juga belum diketahui secara pasti. Untuk menguatkan pendapat ini, dijelaskan bahwa di dalam adat Batak dan Gayo masih terdapat unsur-unsur dan kata-kata yang juga dijumpai dalam bahasa Aceh, meskipun dengan ucapan yang telah berubah di samping unsur-unsur formatif bahasa Batak dan Gayo.
Ada pula yang memperkirakan bahwa etnis Aceh sebagian besar berasal dari Campa, seperti yang diutarakan oleh C. Snouck Hurgronje dalam karyanya The Atjehers (orang-orang Aceh). Hal ini dapat dilihat dari segi bahasa. Bahasa Aceh menunjukkan banyak persamaan dengan bahasa yang digunakan oleh bangsa Mon Khmer, penduduk asli Kamboja, baik dari segi tata bahasa maupun dalam peristilahannya. Perbandingan atau persemaan antara bahasa Aceh dengan bahasa Campa telah dibahas dalam “Aanteekeningen betreffende de verhoding van het Atjesche tot de Mon Khmer talen” oleh K.K.J. Cowan dalam BKI 104 (1948).
Seorang ulama Aceh terkenal pada abad XIX , yaitu Teungku Kutakarang yang popular dengan sebutan Teungku Chik Kutarakarang (meninggal 1895) dalam karyanya Tadhkirat al Radikin menyebutkan bahwa orang Aceh terdiri atas tiga pencapmuran darah yaitu Arab, Persi, dan Turki. Teungku Chik Kutakarang tidak menyebutkan adanya pencampuran dengan suku-suku bangsa lain seperti India dan lainnya. Pendapat yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Julius Jacob, seorang sarjana Belanda dalam karyanya Het Familie en Kampongleven Op Groot Atjeh (1894) (Kehidupan Kampung dan Keluarga di Aceh Besar). Di sini Jakob mengatakan bahwa orang Aceh adalah suatu anthropologis mixtum, suatu percampuran darah yang berasal dari pelbagai suku bangsa pendatang. Ada yang berasal dari Semenanjung Melayu, Melayu-Minangkabau, Batak, Nias, India, Arab, Habsyi, Bugis, Jawa, dan sebagainya. Dapat disebutkan pula bahwa sultan-sultan terakhir yang memerintah di Kerajaan Aceh secara berturut-turut semenjak Sultan Alaidin Ahmadsyah (1727) sampai dengan Sultan Alaidin Mahmudsyah (1870-1874) dan yang terakhir Sultan Muhammad Daudsyah (1874-1903) adalah berasal dari Bugis.
Sebuah riwayat menyebutkanbahwa berdasarkan asal-usulnya, etnis Aceh dibagi ke dalam empat kawom (kaum) atau sukee (suku). Pembagian ini mulai dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Alaaidin Al-Kahar (1530-1552).

Keempat kawom atau sukee tersebut, yaitu :
Kawom atau sukee lhee reutoh (kaum atau suku tiga ratus). Mereka berasal dari orang-orang Mante-Batak sebagai penduduk asli.
Kawom atau sukee imuem peut (kaum atau suku imam empat). Mereka berasal dari orang-orang Hindu atau India sebagai pendatang.
Kawom atau sukee tol Batee (kaum atau suku yang mencukupi batu). Mereka bersal dari berbagai etnis, pendatang dari baerbagai tempat.
Kawom atau sukee Ja Sandang (kaum atau suku penyandang). Mereka adalah para imigran Hindu yang telah memeluk agama Islam.
Pada awalnya, akibat asal0usul yang berbeda, keempat kawom ini seingkali terlibat dalam konflik internal. Kawom-kawom ini sampai sekarang masih merupakan dasar masyarakat Aceh dan solidaritas sesame kawom cuku tinggi. Mereka loyal kepada pimpinannya. Semua keputusan atau tindakan yang akan diambil selalu melibatkan pimpinan dan orang-orang yang dituakan dalam kawom-kawom tersebut.
Sesungguhnya etnis Aceh sebagai suatu entitas politik dan budaya mulai terbentuk semenjak awal abad XVI. Hal ini ditandai dengan terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayatsyah (lebih kurang 1514). Pembentukan ini diawali dengan adanya dinamika internal dalam masyarakat Aceh, yaitu terjadinya penggabungan beberapa kerajaan kecil yang ada di Aceh Rayeuk yang dilanjutkan dengan penyatuan Kerajaan Pidie, Pasai, Perlak, dan Daya ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam. Selanjutnya, pertumbuhan dan pengembangan kerajaan ini ditentukan pula oleh faktor eksternal karena eksodusnya pada pedagang muslim dari Malaka ke ibukota Kerajaan Aceh, setelah ditaklukkannya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, dan juga berubahnya rute perdagangan para pedagang muslim dari jalur Selat Malaka ke Jalur Pantai Barat Sumatera. Keadaan ini menyebabkan ibukota Kerajaan Aceh (Banda Aceh) menjadi berkembang dan penduduknya menjadi lebih kosmopolitan.

B. STRUKTUR MASYARAKAT

Berdasarkan pendekatan historis, lapisan masyarakat Aceh yang paling menonjol dapat dikelompokkan pada dua golongan, yaitu golongan umara dan golongan ulama.

Umara dapat diartikan sebagai pemerintah atau pejabat pelaksana pemerintah dalam satu unit wilayah kekuasaan, Contohnya seperti jabatan Sultan yang merupakan pimpinan atau pejabat tertinggi dalam unit pemerintahan kerajaan, Uleebalang sebagai pimpinan unit pemerintah Nanggroe (negeri), Panglima Sagoe (Panglima Sagi) yang memimpin unit pemerintahan Sagi, Kepala Mukim yang menjadi pimpinan unit pemerintahan Mukim dan Keuchiek atau Geuchiek yang menjadi pimpinan pada unit pemerintahan Gampong (kampung). Kesemua mereka atau pejabat tersebut di atas, dalam struktur pemerintahan di Aceh pada masa dahulu dikenal sebagai lapisan pemimpin adapt, pemimpin keduniawian, atau kelompok elite sekuler.

Sementara golongan ulama yang menjadi pimpinan yang mengurusi masalah-masalah keagamaan (hokum atau syariat Islam) dikenal sebagai pemimpin keagamaan atau masuk kelompok elite religius, Oleh karena para ulama ini mengurusi hal-hal yang menyangkut keagamaan, maka mereka haruslah seorang yang berilmu, yang dalam istilah Aceh disebut Ureung Nyang Malem. Dengan demikian tentunya sesuai dengan predikat/sebutan ulama itu sendiri, yang berarti para ahli ilmu atau para ahli pengetahuan. Adapun golongan atau kelompok Ulama ini dapat disebutkan, yaitu :

Tengku Meunasah, yang memimpin masalah-masalah yang berhubungan dengan keagamaan pada satu unit pemerintah Gampong (kampung).

Imum Mukim (Imam Mukim), yaitu yang mengurusi maslah keagamaan pada tingkat pemerintahan mukim, yang bertindak sebagai imam sembahyang pada setiap hari Jumat di sebuah mesjid pada wilayah mukim yang bersangkutan.

Qadli (kadli), yaitu orang yang memimpin pengadilan agama atau yang dipandang menerti mengenai hokum agama pada tingkat kerjaan dan juga pada tingkat Nanggroe yang disebut Kadli Uleebalang.

Teungku-teungku, yaitu pengelola lembaga-lembaga pendidikan keagamaan seperti dayah dan rangkang, juga termasuk murid-muridnya. Bagi mereka yang sudah cukup tinggi tingkat keilmuannya, disebut dengan istilah Teungku Chiek.

Selain pembagian atas kedua kelompok tersebut di atas, yang paling menonjol dalam masyarakat Aceh tempo doeloe, terdapat laposan-lapisan lain seperti kelompok Sayed yang bergelar habib untuk laki-laki dan Syarifah untuk perempuan. Kelmpok ini dikatakan berasal dari keturunan Nabi Muhammad. Jadi kelompok Sayed ini juga merupakan lapisan tersendiri dalam masyarakat Aceh.

Pelapisan masyarakat Aceh juga dapat dilihat dari segi harta yang mereka miliki. Untuk itu, maka ada golongan hartawan/orang kaya dan rakyat biasa (Ureung leue). Selain itu, penggolongan masyarakat Aceh dapat dibagi pula ke dalam empat kelompok, yaitu golongan penguasa, terdiri atas penguasa pemerintahan dan pegawai negeri; kelompok ulama, yaitu orang-orang yang berpengetahuan di bidang agama; kelompok hartawan (mereka yang memilik kekayaan), dan kelompok rakyat biasa.
(Sumber : Dinas Pariwisata Provinsi NAD. Jelajah Aceh. 2004. Banda Aceh)

Minggu, 01 Agustus 2010

RISALAH BANGSA ACEH

MUQADDIMAH

Risalah kecil ini, bisa menjadi pengingat generasi Aceh hari ni, masa depan, hari esok dan hari bangkit diyaumil masyar. Anak cucu bangsa Aceh yang tinggal sekarang, kasesat, terhina, miskin, dengki dan khianat, sibuk dengan perkelahiran sesame mereka, penuh dengan perbuatan maksiat, zalem. Sampai menjadi lamit di Negara yang indatu aceh tinggalkan. Sekarang sampailah masa kita bangket, melihat, menggali kembali pusaka endatu tinggalkan yang termsyhur didalam dunia. Selamatkan bangsa Aceh,agama, anak cucu dari kutakan dana bala yang sekarang melanda bertubi-tubi diatas bumi serambi mekkah ini. Bangkit untuk mengembalikan soul endatu. Hidup seperti hidup endatu, kerjakan seperti pekerjaan endatu. Ajarilah seperti yang sudah indatu ajari, ini yang sudah tentu. Apa yang di ajari oleh kolonialis bukan sesuatu yang ada, bukan sesuatu yang benar. Jangan didengarkan dan diikuti. Jangan diamalkan dan untuk anak cucu. Semua doktrin kolonialis merupakan racun yang binasa.

Aceh Darussalam ,haji 23 tahun 1419 H

9 april 1999 M.

Po Kalam

KEMBALI KE AJARAN ENDATU

Sebab meusebab nanggroe aceh bisa hancur, hilang tanpa bakat politik dalam dunia International. Merupakan Aceh di perangi oleh kolonialis Hollanda, dengan siasat prang kompeuni Hollanda, andai dihancurkan dalam segala bidang sampai Aceh jatuh dalam perang besar sampai menghabiskan waktu 69 tahun lamanya.

Siasat hollanda yang kedua, sebab mereka mempertahankan PAX NEDERLANDICA seakan-akan kompeuni hollanda tidak hebat kalau tidak bisa menaklukkan bangsa Aceh. pulo Jawa, Kalimantan-Borneo, sulewesi, Ambon, Maluku. Sumatra Timur sampai Bengkalan. Semua jatuh lam wilayah jajahan Niderland Hindie.

SIASAT-STRATEGI HOLLANDA WAKTU MENAKLUKKAN ACEH

a. Siasat militer. Dengan dua cara;

Pertama dengan cara lini concentrasi-kota –bue-meu-kat atau suara monyet berantai. Kompeni pada waktu itu tidak memagari muslimin Aceh. tapi menunggu muslimin Aceh menyerang mereka ditempat mereka duduki. Kompeni lebih memilih mempertahankan posisinya di kota. Seselangkah mereka mempertahankan kawasan yang direbutnya.

Kedua dengan cara membuat perang besar-besaran (meluaskan perang) tentara marsose. Marsose menyerang ditempat dimana ada muslimin Aceh. dengan strategi inilah kompeni Hollanda membunuh rakyat Aceh. dengan membakar rumah rakyat Aceh. memperkosa gadis-gadis Aceh, menghancurkan Ekonomi dengan pimpinan Aceh masa itu. semua di hancurtkan.

b. Membuat politik adu domba atau politik Devide Et Impera- politik plah bak u, bak-u geuplah ngen bajou bak-u (politik membelah kelapa dengan mesin pembelah kelapa) orang Aceh diadukan dengan orang Aceh, diadukan keturunan orang yang menandatangi Vorte veklaring (surat jual Negara ke Nederland) disekolahlan (school) dengan sekolah kolonialis, doktrinasi kebencian terhadap negaranyalah yang diajari. Sampai Anak Bangsa Aceh yang sudah lulus diberikan kuasa untuk membunuh suadaranya sendiri. Mereka tidak akan sedih terhadap Negara dan bangsa. Otak mereka sudah bisa diputar balikkan. Menghilangkan doktrin Aceh, memasukkan doktrin colonial kedalam otak mereka. Sampai Anak Negeri Aceh tidak mengenal diri, seakan-akan naggroe aceh bukan harta pusaka Endatu “ KEUBAH”


Kamis, 08 Juli 2010

Senin, 05 Juli 2010

Pesimisme dan Optimistik

Pesimisme dan Optimistik

Keluhan dan pesimisme adalah kewajaran pada hari ini. Begitu PemerintahcAceh menjadi topik pembicaraan, maka lebih sering Pemerintah Aceh dipandang dari sisi negatif. Aceh penuh dengan kegagalan, deretan kesemrawutan, dan kekurangan yang tanpa habis. Lihat deretan seminar dan diskusi, baik di hotel berbintang maupun di kampus-kampus, atau obrolan rakyat Di meunasah hingga dengan obrolan di warung kopi. Lihat berita di Media cetak, di sana padat dengan kabar buruk. Tanpa sadar kita lebih sering dan lebih suka membicarakan pemerintah Aceh dengan pandangan negatif.

Mengapa kita lebih suka memfokuskan pada kegagalan sambil mengabaikan kemajuan? Bangsa kita memiliki stok masalah yang luar biasa banyaknya. Apa saja yang kita bicarakan pasti di sana ditemukan masalah, pasti ada kekurangan. Berbicara kesejahteraan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan, Laporan Bank Dunia (2008) memperlihatkan bahwa kemiskinan di Aceh sedikit meningkat pasca bencana tsunami, dari 28,4 persen pada tahun 2004 mencapai 32,6 persen pada tahun 2005. Hal ini berlawanan dengan tingkat penurunan kemiskinan yang terjadi pada wilayah-wilayah lain di Indonesia. Peningkatan tersebut termasuk relatif kecil mengingat besarnya kerusakan dan kerugian yang disebabkan oleh tsunami dan juga mencerminkan dampak yang positif dari upaya awal rekonstruksi. Tingkat kemiskinan menurun pada tahun 2006 hingga mencapai 26.5 persen, lebih rendah dari tingkat kemiskinan sebelum tsunami, menunjukkan bahwa peningkatan kemiskinan yang berkaitan dengan tsunami tidak berlangsung lama dan aktivitas rekonstruksi kemungkinan besar memfasilitasi penurunan tersebut. Pada tahun 2006, dan tahun 2009 turun lagi menjadi 21,83 persen.tingkat kemiskinan di Aceh menurun, sementara tingkat kemiskinan di wilayah-wilayah lain meningkat. Walaupun demikian, kemiskinan di Aceh tetap jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Berbicara pendidikan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa pendidikan di Aceh memiliki skor sangat rendah dan di bawah minimal, pada tahun ini Pendidikan kita berada di Bawah papua barat. Berbicara tentang kesehatan, maka standar pelayanan kesehatan kita sangat rendah. Berbicara tentang lingkungan hidup, maka situasi kita memprihatinkan.

Tidak adakah keberhasilan di seurambi mekkah ini? Ada banyak, tapi kita tidak membicarakan. Saat negeri ini berhenti dari suara letusan Peluru dan hantaman tsunami 2004 lalu, masih banyak masyarakat negeri ini buta huruf. Bayangkan, 4 juta lebih manusia diseurambi mekkah yang sanggup bertahan dari konflik dan benacana tsunami tak lain hanyalah untuk meneruskan pembangunan dan perbaikan dari masa kegagalan,bahkan sanggup mendorong revolusi, tapi tidak bisa menulis nama sendiri. Kita buta huruf secara kolosal. Hari ini rakyat aceh yang buta huruf tinggal sekitar 8 persen. Itu pun mayoritas adalah penduduk lanjut usia. Bangsa mana di indonesia selain Papua, yang anggarannya 7,5 T lebih , yang bisa memutarbalikan buta huruf total menjadi melek huruf total? Itu adalah pencapaian luar biasa. Itu adalah prestasi kolektif seluruh bangsa, bukan prestasi satu-dua pemerintahan. Hari ini hampir ke mana pun kita pergi, kita bisa berdialog dengan rakyat yang melek huruf. Lihat India, lebih dari 60 tahun merdeka dan 40 persen rakyatnya masih buta huruf.

Melek huruf adalah awal keberhasilan. Akses pada pendidikan berkualitas untuk setiap Rakyat Aceh adalah janji berikutnya yang harus dilunasi. Saya membayangkan suatu saat nanti jika kita ditanya tentang apa kekayaan Aceh dan jawabnya bukan lagi melimpahnya minyak, tambang, gas, hutan, dan kekayaan, tapi jawabnya adalah ''manusia Aceh''; saat itu menandai bahwa negeri ini mulai masuk era kemajuan.

Dari sisi kesejahteraan, Pasca penandatanganan MoU Helsinki,sebenarnya perekonomian di Aceh berpotensi untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik jika jajaran Pemerintah Aceh dan stakeholder pembangunan di Indonesia memiliki action plan, work plan dan development strategies yang jelas dan terarah, Aceh mendapatkan punishment dari pihak Pemerintah Pusat karena lemahnya daya serap dana APBN dan APBA/APBK. sebab 1 minggu menjelang berakhirnya tahun 2009 ternyata daya serap anggaran tersebut tidak "lebih dari 52%. Kinerja Pemerintah Aceh lemah. Lemahnya realisasi anggaran tersebut membuat dana besar triliunan itu sia-sia belaka. ini cukup mengkhawatirkan karena bisa mempengaruhi keuangan Aceh untuk tahun berikutnya,seperti tahun ini pemerintah pusat bisa memotong pendapatan hingga 20 .Seharusnya pemerintah Aceh selaku pengelola APBA bertanggung jawab, dan bekerja maksimal.

Ironisnya, di dalam negeri kita berkeluh kesah, sementara di luar kita dipandang dengan penuh decak kagum. Aceh dinilai dunia sebagai negeri syariat islam, memiliki pembangunan positif, dan mampu bangkit kembali setelah dihantam golombang tsunami.

Dua hal di atas adalah sekadar contoh bagaimana sesungguhnya kita bisa melihat fenomena di Aceh secara positif. Sudut pandang positif bisa membulatkan hati kita bahwa kemajuan itu senyatanya terjadi di Di daerah Outsus ini. Dengan kata lain, menilai situasi Aceh harus juga melalui membandingkan antara Aceh sekarang dan Aceh dulu. Tidak hanya membandingkan realitas sekarang dengan kondisi ideal, atau dengan daerah lain.

Kita perlu memperhatikan kemajuan dan keberhasilan. Melihat yang sudah dicapai, tidak hanya memperhatikan yang belum dicapai. Keseimbangan dan objektivitas bisa mendorong kita untuk memiliki optimisme. Apa lagi bila kita bisa secara cerdas membedakan antara sikap optimistis dan sikap mendukung pemerintah, serta membedakan sikap kritis dengan sikap pesimistis. Optimis terhadap bangsa tidaklah mendukung pemerintah. Sikap kritis justru harus dipertahankan, tapi sikap pesimistis harus dihapus dan jangan takut untuk optimistis.

Optimisme tersebut hanya ''modal awal''. Sikap itu mesti diikuti dengan semangat melakukan perubahan, pembaruan, dari semua level, dan di segala sektor masyarakat. Pandangan positif dan optimistis digandakan menjadi pandangan kolektif seluruh bangsa.

Coba tengok masa lalu. Ketika Aceh ini mengumpulkan Modal buat pusat, para pemimpin memiliki seluruh persyaratan untuk pesimistis. Kemiskinan merata, kebodohan di mana-mana, kekerasan merebak, dan kekacauan juga terjadi di mana-mana. Negara tanpa anggaran. Tetapi, mereka memilih optimis. Mereka gandakan optimisme itu menjadi optimisme kolektif seluruh bangsa. Kombinasi antara integritas tinggi para pemimpin dan optimisme kuat menjadi pendorong kemajuan daerah Outsus yang sangat muda ini. Bandingkan, hari ini kita memiliki banyak persyaratan untuk optimis. Tapi, kita sering memilih membicarakan kegagalan, bukan keberhasilan. Mengungkap yang belum dicapai, bukan yang sudah dicapai. Menuding yang salah-salah, bukan memperbanyak cerita sukses. Akibatnya, seuramo meukkah ini dirudung pesimisme. Aceh mengalami defisit optimisme. Kita harus merombak suasana itu. Pesimisme yang meruyak di mana-mana harus kita putar balikkan. Bersediakah kita berkaca dan menilai diri sendiri: apakah kita sudah bersikap positif dan optimistis? Jika belum, mari kita mulai membangun kembali nuansa positif dan optimistis itu.

ketua Umum Ikatan pelajar pemuda Mahasiswa Aceh malang 2010-2011


Senin, 14 Juni 2010

aneuk bude

“ ANEUK BUDEU” (Menjemput Ilmu Dalam Sarang Peluru)”

Cerita & sutradara : Ayi Mesbar

SINOPSIS :

Konflik merupakan suatu virus yang menghancurkan dan menghambat kemajuan manusia dalam mengakses dan mengembangkan diri dalam berekpresi. Walaupun semua manusia mengetahui, konflik menghancurkan masa depan generasi penerus akan tetapi itu tetap tak dapat terhindarkan. Walau manusia percaya sebagaimana kata dalam pepatah “ pat ujeunt yang hana piyoh, pat prang yang hana reuda” (mana ada hujan yang tak pernah berhenti, dan dimana ada perang yang tak terhentikan).

Cerita menjemput Ilmu dalam sarang peluru merupakan cerita yang pernah terjadi di daerah konflik, yang penuh dengan suara letusan senapan dan granat, menjadi sebuah ketahanan tekat dalam berjuang merobah masa depan daerah ini. Dimana segala segi sendi perputaran roda dunia, baik dari ekonomi, jaminan sosial, dan pendidikan di sebuah daerah yang termakan oleh konflik, dimana sebagian dari mereka berhenti untuk menjemput ilmu, karena ketidak ada jaminan keselamatan.

Rizal, salah seorang siswa SD kelas IV, anak dari seorang ayah yang tergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun sayangnya dia tidak pernah tau kalau sang ayah merupakan salah satu komplotan yang sedang diburu oleh TNI pada saat itu. Situasi konflik yang sangat mencekam tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar.

Sebagai siswa SD, seorang anak seperti Rizal tidak pernah tau apa yang sedang terjadi dalam lingkaran kehidupannya saat itu. Tapi seiring waktu berjalan dia mulai gelisah dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya, sehingga rasa keingintahuannya membawanya kepada suatu kenyataan yang pahit baginya.

Akan tetapi konflik yang sedang bergejolak dengan dahsyatnya bukanlah alasan untuk berhenti menunutut ilmu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,



SINOPSIS :

Cerita & sutradara : Ayi Mesbar

Rizal, siswa SD kelas IV,


STREAMENT

SEKUEL : MAKE UP

  1. INT-RUMAH RIZAL-SUBUH------Scene Header

Pameran : Rizal-----tokoh

Kamar rumah ini hanya berbentuk segi empat kecil dengan satu jendela dan dinding dari kayu, ruang tamu yang berserkan dengan peralatan sawah. Ruangan rumah ini terkesan seperti gudang, yang kacau dilihat.

Rizal terbangun kerena pekiknya suara azan subuh dari speaker musalla di sebelah sungai rumahnya.

Rizal duduk dengan kain menutupi kakinya, mulutmya menguap,seperti kalah melawan tidur.

Dengan handuk yang penuh warna kehitaman di bahunya, dan satu gayung dengan isi peralatan mandi di tangan kirinya, dan satu ember ditangan kananya, berangkat menuju sungai di depan rumahnya.. .. .. ..

Dengan air yang jernih dan dingin, Rizal memyeburkan tubuhnya kedalam sungai.. ………DESKRIPSI

CUT TO

  1. EXT-BERGEGAS BERANGKAT KE SEKOLAH-PAGI JAM 6.

Pemeran : Rizal dengan Rambut Basah, handuk menutupi setengah badanya, dua tangannya dengan membawa air ditangan kanan,gayung di tangan kiri.

Rizal masuk rumah,,, tiba-tiba ibunya bersuara “ na ka peuwo ie neuk

Rizal; “ na mak ”…

Dengan tas tempat tutupnya dengan peniti, sepatu robek,terikat dengan tali sepatu.berjalan mendekati rumah fahmi,,,yang lagi memakai sepatu dan siap berangkat ke-sekolah---deskripsi

CUT TO

  1. EXT-SEKOLAH---PAGI

Pemeran : Rizal,fahmi dan ibu pipit,Extras

Halaman sekolah dengan satu tiang di atas dengan bendera merah putih yang lagi berkibar.

Rizal dan fahmi, mendekati gerbang Pintu sekolah dari arah utara, dan sebelah selatan Ibu pipit yang baru turun dari Sepeda mendekati gerbang pintu,,,

CUT TO

  1. EXT-HALAMAN RUMAH---PAGI

Pemeran :Rizaldan Fahmi,Extras

Asslmualai,,,( lansung mencium tangan ibu Pipit)

Ibu Pipit

Alaikumsalam,,,( tangan kiri memegang stang sepeda,dengan mengulurkan tangannya kepada Rizal dan Fahmi).

CUT TO

  1. EXT- RUANGAN KELAS.

Pemeran : Rizal,Hayaton, anak-anak dan ibu pipit,Extras

Suasana kelas yang ribut, menunggu guru masuk…ada yang lagi berkelompok yang sedang berbincang-bincang, rizal sama Fahmi lagi duduk bertatapan muka dengan seorang cewek namanya Hayaton,,,tiba-tiba ibu Pipit masuk dengan tas di bahu dan buku di tangan kananya yang menempel dadanya lagi jalan masuk ruang, anak-anak..diam sesaat,,,

Ibu Pipit…

Asslm…

Anak-anak

Alaikumsalam,,, (serentak, sambil berdiri),,,

Ibu pipit,,,

“ Aneuk meutuah ,,,(diam sesaat dengan membuka tas,mengambil buku mata pelajaran),,,tanyou jino meureuno ilme seujarah,,,”(dengan buku di tangan, dan berjalan menuju bangku anak-anak),,,so yang teupeu! Daerah yang pernah jok kapai keu Nanggrou Indonsia saat ban-ban merdeka..? ( dengen memerhatikan siapa yang akan jawab),,,ayo so jeut jaweb,,,

Rizal

(dengan mengangkat tangan sebelah keatas),,,”geupeugah le ayah lon,Aceh, bu,,,(diam sesaat dan meneruskan, ibu Pipit memperhatikan dan berjalan menuju rizal),,,kareuna geutanyo harus tabantu nanggrou, untuk jak blo-blo breuh keu ureung geutanyou bek dek,,,”

Anak-anak,,,

Kwakakakak,,,( seakan-akan itu lelucon ayah Fahmi)

Ibu Pipit

( dengan nada lembut, dan berjalan ke depan) aneuk-aneuk meutuah lon saying,,,nyan beutoi yang di peugah le Rizal”,,,(diam sesaat),,nyan di pake untuk di bantu peumerintah geutanyo,,,nget mangat jak ulua naggrou,lake bantu peuaman naggrou geutanyo dari peunjajah”

CUT TO

  1. EXT- RUANGAN KEPALA SEKOLAH

Pemeran : bapak,IBU KEPALA SEKOLAH,IBUK PIPIT,IBU ERNIExtras

Dihalaman sekolah kelihatan seorang bapak guru dengan bergeas-gegas menuju Ruangan kepala sekolah, (ibu pipit sedang menulis di papan tulis), tiba-tiba suasana di ruang kepala sekolah, guru-guru terasa cemas, menadakan sesuatu sedang terjadi,,,seorang guru datang dengan cepat menuju ruangan Kelas IV,,,

Asslm,,,(tangan mengetuk pintu),,,

Ibu Pipit

Alaikum salam,,,( dengan Kapur Tulis di tangan, badan menghadap kepapan tulis, muka memalingkan kea rah ibu erni).

Ibu Erni,,,(kepala menganggu,dan mata mengedip, memanggil dengan bahasa isyarat).Ibu pipit, menaruh buku diatas meja dan sekalian kapur dengan mengatakan,,,” Aneuk meutuah,bek karu-karu beh! Ibu na perle siat,,,” lalu ibu Pipit berjalan menuju pintu, menemui ibu Erni,,,mereka mengobrol dengan suara kecil,,,tiba-tiba mereka berdua berjalan ke kantor kepala sekolah,,ibu pipit waktu berjalan menoleh keruangan kelas,memerhatikan anak-anak dengan penuh keprihatinan dan kasih sayang seperti hantaman besar yang akan menimpa semua murid dan sekolah,,,

Ruang kepala sekolah,,,,

Suasana ruangan penuh kegelisahan diwajah-wajah guru,,,tiba-tiba ibu Pipit dan Erni masuk ruang kepala sekolah,,,” asslm,,,” ucap Ibu pipit, disebelahnya ibu erni menuju kursi depan kepala sekolah dan guru-guru yang sedang berdiri dengan mata tertuju ke ibu Pipit(dengan wajah menaruh pada ibu Pipit),,,” alaikum salam,,,",,,kepala sekolah " nyo na info, ureung nyou ka geuba bude, bak ret sideh, nyou masa kureung,,,suara terpotong oleh bapak mawardi “ meuno bu Pipit, saknyo lon bak ret,wate lon jak keuno, meureumpek ngen ureungnyo rame that bak ret,,,(tangan menunjuk kearah mereka),,,bude raya-raya that geumat,,,”, kepala sekolah “ jadi kiban teuma aneuk-aneuk mit nyo”,,,(dengan waja cemas), ibuk Pipit ”ulon rasa nyan ken piasan tanyou,,,”( guru-guru yang lain melihat ibu Pipit, penuh heran).

CUT TO

  1. EXT- RUANGAN KELAS.

Pemeran : Rizal,Hayaton, anak-anak dan ibu pipit,Extras

Ibu Pipit menuju ruang kelas,,,diruang anak-anak lagi asyik main-main lemparan kertas,,,ibu Pipit masuk,,,(anak-anak merapat ke bangkunya masing-masing tanpa rasa takut), ibu Pipit “ aneuk meutuah, kalheuh catat yang ibu tuleh di papeun”,,,anak-anak dengan suara serentak, dan muka menuju ke depan ”kalheuh bu,,” ,ibu Pipit,lagi melihat sesuatu di tasnya “ meutuah aneuk lon,,,ibu pipit lagi membaca buku,,anak-anak ngoceh di ruang,,,tiba-tiba suara “ ting,,ting,,,” petanda jam istirahat,,,Rizal keluar ruangan bersama teman-temannya ke halaman sekolah, anak-anakyang lain, membeli jajan, ada yang main kejar-kejaran sesame mereka,,,

CUT TO

  1. EXT- RUANGAN KELAS.

Pemeran : Rizal,Hayaton,Fahmi,Extras

Rizal dengan membawa satu kue dan es di kedua tangannya bersama Fahmi dan Nur_annisa duduk di bawah pohon,,,Nur_annisa dengan baju putih berlambang osis di kantong bajunya, dan celana merah,tali pinggang, dengan rambut model phoni,dia dari kampong keudah yang dihuni oleh tranmigrasi,,,dia kurang bisa berbahasa Aceh,,,”kalian ngak capek,kalau jalan tiap hari ke sekolah,,,(diam, wajahnya mengarah ke rizal,fahmi lagi cabut rumput, dan dia melanjutkan,,),,gampong kalian kan jioh dari sekolah,,,”Rizal menjawab dengan ekspresi acuh tak acuh,,,”oh,,,itu kita ka sereng,,,Fahmi memotong pembicaran rizal, tangannya berhenti mencabut rumput, raut wajah yang santai penuh nakal ,,wajah rizal menoleh ke Fahmi,,,” kalau kita kan,jalan kaki,itu enak,kamo troue sabe,,,” wajah rizal seperti takut kalau nur mikir ia juga ikutan,,,dengan kalimat putus,,putus,,” lon… hana roh ikot,,,” Fahmi memotong percakapan, tangan rizal Mencubiti Fahmi,,,” sama cit nyan,,,”Fahmi berteriak,,,”auo, saket hai gam”,,,”paken nya” sahut nur dengan pura-pura ngak tau kalau Rizal mencubiti Fahmi,,,” tanyo kan masih kecil, hana dosa lom, tapi bek peubiasa le cit, ngak baik,,,” sambil senyum,,,Rizal Mengejar fahmi sambil bercanda,,,nur tersenyum di bawah pohon melihat mereka berdua saling kejar-kejaran,,,

CUT TO

  1. EXT- RUANGAN RUMAH,,.

Pemeran : Rizal,IBU,Extras


Aktivitas sore,,,

Ibu rizal lagi meniduri adiknya,,,suasana diruangan, kamar tidur dari papan, dengan kain berserakan,,,diruang tamu ada karung terlihat di pojok,dan terjepit sepeda rusak,,,berisi kain yang tak terpakai lagi dan buku dibawahnya,,,rizal mendekati pintu ibunya dikamar yang lagi menemani adiknya tidur,tangan Rizal memegang pintu seperti anak manja,,,dengan badan lenggak longgok,,,

Rizal,,” mak,,”

Ibu “peuna neuk”,,

Dengan muka agak tidak enak mengucapnya,,kakinya mengarah tajam lari ke kamarnya,,,” hana sapeu mak,,,Rizal menggeledah kamarnya,,,mencari Buku untuk di baca,,,dia memutar-mutar dan mengangkat ranjang bajunya,,,disekitar kamar, ada meja tulis, belankang pintu ada paku dengan Baju sekolah tersangkut disana,,,dia mengambil buku agama di belakang pintu yang tertutup oleh rangjang Bajunya,,,dia berjalan menuju keluar lewat belakang rumah,,,

Ibu,melihat Rizal lari dengan buku ditangannya lewat jendela,,,” ho nyan neuk”,,,rizal berlari melewati pohon-pohon belakang rumahnya,,,ibu Rizal dengan kepala menggelengkan kepala,,,

Ending,,,

CUT TO

  1. EXT- RUANGAN TAMU.

Pemeran : Rizal,Adiknya dan ibu,Extras


Rumah : Suasana Malam,,,

Ruangan tanpa listrik,hanya lapu layang,,,sehelai tikar tiga anak, dan seorang ibu mengajari Al-qur’an buat anaknya,,,disebelah ujung kiri,Rizal dengan kupiah, memakai sarung tanpa baju, matanya meyoroti huruf-huruf Al-qur’an, di tangan kanannya satu lidi yang lagi menunjuk,,,ibunya lagi menjahit baju, duduk ditengah-tengah mereka,,,sesekali membetuli huruf yang salah di ucapkan Rizal dan adiknya,,,

CUT TO

  1. EXT- KAMAR TIDUR RIZAL.Extras

Pemeran : Rizal,Extras


Pagi,,,suara ayam berkokoh,,,Rizal dengan handuk setengah badan, gayung di tangan kiri dan ember ditangan kanan, balik kerumah,,,suasana senja,,,

Ruangan dapur, batako yang tersusun membentuk dapur masak, atap rumbia, dinding dari tiplek, rizal masuk, menaruh ember dekat rak piring, gayung di ember besar,,,rizal menghidupi api, untuk memasak,,,

Ruang Kamar, adik rizal masih tergelatak di atas kasur, rizal mengambil kain untuk shalat subuh,,,lagi tahaiyat akhir terdengar suara ketukan pintu,,,

Bapak Rizal,,,

Asslm,,,,( suara berbisik) dan tangannya mengetuk pintu..

Tok..tok…tok…

Rizal,,,(asslamualaikum wr…wb..) dan megusap muka dengan kedua telapak tangannya,,,dan melihat kearah jendela dengan penuh keherana,,,tiba-tiba menuju jendela untuk memastikan siapa diluar,,,

Tiba-tiba rizal terkejut waktu membuka jendelanya, dia melihat wajah ayahnya,,,wajah ayah Rizal seperti malaing ketakutan,,,

CUT TO

  1. EXT- RUANGAN KAMAR TIDUR RIZAL.

Pemeran : Rizal,ayah ,Extras

Ruangan kamar tidur, adik rizal tidur paling pojok, sajadah yang belum dipindahin tergeletak di atas semen, gorden pintu, muncul dua orang, satu anak kecil satu dewasa,,,

Rizal,,,”ayah pat neuwo teungeh supot klam lagenyo”?

Ayah,,,”ssstt,,,(tangannya dipipi) memberi aba-aba suara rizal dikecilkan,,,” bek rayek thath Musu, euntreuk jaga adek keuh,,”(sambil mengulas rambut adik rizal”.

Adik Rizal “ menguap”(tangan ayah berhenti mengulas), rizal lagi membuka tasnya menaambil buku membuat tugas…

Ayah “kiban sikula lawetnyo neuk” (tangan ayahnya mengulas rambut Rizal penuh kesayangan),,

Rizal,,,” lon hana le buku tuleh ayah,,,(diam sesaat, memperhatikan ayahnya, mengambil sesuatu dikantongnya) dan pih buku keu lon baca-baca hana meuganto-ganto ayah”

Ayah,,(memegang bahu rizal dan memberika uang 5000),,” neuk, ayah hana rezeki lom keu blo buku abang,,,eutreuk wate kanapeng ayah blou,,,ayah peutrok heuth abang,,,

Rizal,,,( melihat kearah ayah yang lagi duduk),,pajan man ayah blou”

Ayah,,,(mencium adik rizal),,,abang yu cok buku di rumoh nyak wa di meugit, yang hana dibaca le, baca yang na le sementara,,,”

Ayah rizal melankah keluar kamar menuju kamar ibuknya,,,rizal meneruskan PR nya,,

CUT TO

  1. EXT- KAMAR IBU.

Pemeran :ayah dan ibu,Extras

Ibu lagi tidur berbaring di dalam kelambu bersama adiknya rizal yang kecil, tiba-tiba ayah rizal masuk,,,dan membuka kelambu, ibu rizal terbangun,,,

Ibu,,,” ayah,,,(suara kaget dan sedih),,,ho neuh ayah hana neu wo-wo,,,”

Ayah,,,ssstt,,,,(tangannya diantara dua pipinya),,,jaga sinyak euntreuk,,”melanjutkan,,,”kiban haba aneuk miet,,”

Ibu,,,(air matanya menetes, tangannya menyapu air mata dipipinya), jrou neu bi le po,..(diam sesaat meyapu air matamya),,,drou neuh peu sehat yah”

Ayah,,,( sedang mencium kening adik kecil rizal),,,lon hana peu-peu,,”



Ini belum selesai…a

kan saya selesaikan secepatnya…